ARTIKEL TERBARU

Pendidikan Muhammadiyah di Era Digital
31 Desember  2018

Pendidikan Madrasah di Era Digital
31 Desember  2018

Jalan Terjal Menjadi (C)PNS
31 Desember  2018

Fenomena Klithih
31 Desember  2018

Bencana Alam Dilihat dari Perspektif Agama
31 Desember  2018

Belajar dari SKD CPNS 2018
31 Desember  2018

Guru Milenial
9 Desember  2018

Pembentukan Bayangan Pada Mikroskop
13 September  2018

Pembentukan Bayangan Pada Lup
16 July  2018

Pembentukan Bayangan Pada Mata
13 July  2018

Pembentukan dan Sifat-sifat Bayangan Pada Lensa Cekung
25 Juni  2018

Pembentukan dan Sifat-sifat Bayangan Pada Lensa Cembung
25 Juni  2018

Pembentukan dan Sifat-sifat Bayangan Pada Cermin Cekung
24 Juni  2018

Pembentukan dan Sifat-sifat Bayangan Pada Cermin Cembung
22 Juni  2018

Pembentukan dan Sifat-sifat Bayangan Pada Cermin Datar
20 Juni  2018

Bangun Ruang Sisi Datar (Limas)
22 Mei  2018

Bangun Ruang Sisi Datar (Prisma)
21 Mei  2018

Bangun Ruang Sisi Datar (Balok)
21 Mei  2018

Bangun Ruang Sisi Datar (Kubus)
20 Mei  2018

Bangun Datar (Lingkaran)
9 Mei  2018


Selamat datang di portal ini. Jangan lupa saran, kritik dan komentarnya untuk perbaikan dan penyempurnaan web. Terimasih atas kunjungan dan partisipasi Anda. Salam sukses...





Fenomena Klithih
 

Beberapa minggu terakhir ini, kembali daerah Yogyakarta dihebokan dengan aksi kriminalitas yang popular dengan nama klithih. Yang menjadi keprihatinan adalah bahwa pelaku klitih ditengarai masih tergolong usia belasan tahun, bahkan berstatus pelajar. Para pelaku klithih tak segan segan melukai korbannya, bahkan para korban harus kehilangan nyawa, dengan tidak mengetahui apa dosanya. Menjadi tanggungjawab kita semua untuk meminimalisir bahkan menghentikan kasus yang meresahkan ini.

Klithih, menurut asal kata (bahasa jawa) sebenarnya berarti kegiatan dari seseorang yang keluar rumah di malam hari yang tanpa tujuan, atau sekedar jalan-jalan, mencari atau membeli makan, nongkrong di suatu tempat, berkumpul dengan orang-orang dan lain sebagainya. Seiring dengan waktu dan aksi-aksi yang dilakukan sekelompok orang pada malam hari dengan tindakan meresahkan warga, bahkan cenderung melukai warga, maka kata klithih bergeser menjadi image yang negatif, identik dengan tindak kekerasan fisik dengan tanpa pandang bulu siapa korbannya. Para pelaku klithih bergentayangan pada jam-jam malam dengan lokasi di jalanan, fasilitas publik, dengan modus dan sasaran korban yang tidak jelas, bahkan dalam aksinya mereka menggunakan senjata tajam untuk melukai korbannya.

Faktor penyebab Jika dilihat dari motif para pelaku klithih yang tertangkap dan juga pengakuan para mantan pelaku di media massa, dapat ditarik benang merah, bahwa para pelaku merupakan sekumpulan remaja yang tergabung dalam geng tertentu, dengan kata lain tindakan klithih tidak dilakukan hanya orang perorang,tetapi sudah terorganisir dengan frekuensi aksi yang tidak bisa diprediksi. Beberapa faktor yang menjadi penyebab diantaranya : Faktor psikologis. Eduard Spranger, seorang filosofer asal Jerman yang juga menggeluti ilmu psikologi remaja menyatakan tentang tanda masa remaja dalam tiga tindakan utama. Yaitu : penemuan jati diri (penemuan aku), pengembangan pedoman kehidupan dan melibatkan diri pada kegiatan bermasyarakat. Masa remaja merupakan peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa, pada masa ini terjadi berbagai perubahan, baik fisik, biologis maupun psikis. Masa ini disebut juga masa labil, dimana seorang remaja belum mempunyai jati diri yang jelas, mudah terpengaruh hal-hal baru, perasaannya sensitif, reaktif tetapi juga kritis. Dengan kondisi psikologis seperti ini, sangat wajar jika remaja bertindak diluar kendali dan tanpa berfikir panjang dampak yang ditimbulkan dari ulahnya. Dia ingin mencari jati diri, status sosial, kenyamanan sekaligus pelampiasan akan angan-angan dan keinginannya terlepas baik atau buruk, pantas atau tidak pantas maupun normal atau abnormal. Faktor keluarga. Peran keluarga sangat penting dalam membina dan membentuk karakter remaja supaya berakhlak mulia dan berbudi pekerti. Kehidupan keluarga yang harmonis, pengertian, perhatian dan kasih sayang orangtua sangat berpengaruh dalam pencarian identitias. Keluarga yang tidak harmonis, kurang komunikatif, broken home, tentu akan menjadikan remaja mencari kenyamanan, perhatian dan kasih sayang di luar keluarganya. Akan lebih mengkhawatirkan jika ?tempat pelarian? remaja tersebut jauh dari norma-norma masyarakat. Faktor lingkungan. Tidak hanya dalam lingkungan keluarga, pola hubungan seorang remaja dengan teman sebayanya juga memiliki pengaruh terhadap perkembangan emosi. Pada masa remaja, kecenderungan remaja akan membuat kelompok-kelompok untuk sekedar menunjukkan identitas maupun untuk melawan otoritas dari pihak yang dianggap harus dilawan. Seorang remaja yang terjebak, dipaksa atau sengaja membaur dengan geng-geng sekolah atau kelompok ?liar? lainnya tentu mau tidak mau harus mengikuti aturan main dalam geng tersebut, dengan tujuan ingin menjaga eksistensi atau pengaruh dalam gengnya. Terlebih lagi jika sekumpulan remaja tersebut mempunyai paham atau problem yang sama, tentu menambah solidaritas dan ?jiwa korsa? diantara mereka. Faktor gaya hidup. Generasi remaja saat ini bisa dikatakan sebagai generasi milenial, generasi yang identik dengan kemajuan teknologi, serba instan dengan gaya hidup hedonis dan konsumtif. Dengan berbagai pengaruh teknologi, khususnya teknologi informasi seperti media sosial, televisi dan sejenisnya telah merubah paradigma remaja dalam menghadapi dunia nyata, ditambah lagi kontrol dari orangtua yang sangat minim. Tanpa diimbangi dengan bekal ilmu agama dan moral, pengaruh dari pergaulan dan berbagai medsos akan sangat kuat, terlebih dari hal-hal negatif, seperti kekerasan, pornografi, aksi menyinggung SARA, minuman keras, peyalahgunaan narkoba dan sebagainya.

Pencegahan dini Untuk mencegah terjadinya aksi-aksi klithih ini perlu sinergis dan kerjasama dari berbagai elemen masyarakat. Dengan melihat berbagai faktor penyebab klithih, kita tidak perlu tergesa-gesa menuding para pelaku sebagai pihak yang bersalah dan wajib dihukum. Tugas dari aparat penegak hukum tentu memproses para pelaku tindak kriminal dan memberikan hukuman sesuai dengan tingkat kesalahan pelaku, akan tetapi tanpa dukungan dari pihak-pihak terkait tentu fenomena klithih laksana gunung es. Keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat tentunya mempunyai peran dan tanggungjawab yang besar terhadap perkembangan psikis para pelaku. Peran kepala keluarga untuk selalu memberikan perhatian dan pendidikan moral atau agama kepada anggota keluarganya dengan tidak terlalu mengekang atau membatasi pergaulan seorang anak akan membuat anak tersebut nyaman. Peran masyarakat juga penting, perlunya saling mengingatkan dan menasehati tentang perilaku dalam kehidupan bermasyarakat, Adanya norma yang harus dipatuhi bersama, semisal aturan berkunjung jam malam, jadwal ronda. Melihat para pelaku klithih yang sebagian masih berstatus pelajar, maka peran institusi pendidikan sangat vital untuk mencegah terjadinya aksi klithi. Lokasi dan waktu pelajar yang tersita di kampus hendaknya dikelola dengan baik oleh staekholder kampus yang bersangkutan. Selain mengajarlkan ilmu, para guru juga berperan mendidik akhlak anak didiknya baik secara teoritis maupun praktek. Termasuk diantaranya pembiasaan kedisiplinan, menanamkan karakter mulia dan menegakkan aturan sekolah. Yang tidak kalah pentingnya adalah mencegah tumbuhnya geng-geng sekolah, memutus rantai bibit-bibit permusuhan dengan sekolah lain dan mengisi kegiatan yang positif, seperti extra olahraga, kepramukaan, bakti sosial dan sebagainya. Pihak sekolah bisa bekerjasama dengan para pemuka agama dan penegak hukum untuk selalu rutin memberikan penyuluhan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta pemahaman terhadap aturan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan kolaborasi dan kekompakan berbagai elemen, niscaya fenomena klithih dapat diminimalisir dan dicegah, sehingga daerah Yogyakarta dengan slogan ?berhati nyaman? tidak sekedar isapan jempol.