ARTIKEL TERBARU

Pendidikan Muhammadiyah di Era Digital
31 Desember  2018

Pendidikan Madrasah di Era Digital
31 Desember  2018

Jalan Terjal Menjadi (C)PNS
31 Desember  2018

Fenomena Klithih
31 Desember  2018

Bencana Alam Dilihat dari Perspektif Agama
31 Desember  2018

Belajar dari SKD CPNS 2018
31 Desember  2018

Guru Milenial
9 Desember  2018

Pembentukan Bayangan Pada Mikroskop
13 September  2018

Pembentukan Bayangan Pada Lup
16 July  2018

Pembentukan Bayangan Pada Mata
13 July  2018

Pembentukan dan Sifat-sifat Bayangan Pada Lensa Cekung
25 Juni  2018

Pembentukan dan Sifat-sifat Bayangan Pada Lensa Cembung
25 Juni  2018

Pembentukan dan Sifat-sifat Bayangan Pada Cermin Cekung
24 Juni  2018

Pembentukan dan Sifat-sifat Bayangan Pada Cermin Cembung
22 Juni  2018

Pembentukan dan Sifat-sifat Bayangan Pada Cermin Datar
20 Juni  2018

Bangun Ruang Sisi Datar (Limas)
22 Mei  2018

Bangun Ruang Sisi Datar (Prisma)
21 Mei  2018

Bangun Ruang Sisi Datar (Balok)
21 Mei  2018

Bangun Ruang Sisi Datar (Kubus)
20 Mei  2018

Bangun Datar (Lingkaran)
9 Mei  2018


Selamat datang di portal ini. Jangan lupa saran, kritik dan komentarnya untuk perbaikan dan penyempurnaan web. Terimasih atas kunjungan dan partisipasi Anda. Salam sukses...





Bencana Alam Dilihat dari Perspektif Agama
 

Beberapa bulan terakhir ini, Indonesia didera berbagai bencana alam, mulai dari wilayah Nusa Tenggara Barat, Sulawesi dan Selat Sunda. Bencana alam yang terjadi berbagai rupa, banjir, tanah longsor, gempa bumi, tsunami dan erupsi gunung berapi. Jumlah korban yang jatuh pun tidak bisa dibilang sedikit. Baik meninggal dunia, luka-luka, kehilangan tempat tinggal dan sebagainya. Timbul pertanyaan, kenapa terjadi bencana alam di Indonesia, pihak mana yang menjadi penyebabnya?

Sebagai bangsa dan umat yang berkeTuhanan tentu dalam melihat fenomena ini ada perspektif sendiri. Tidak sepatutnya kita hanya percaya bahwa bencana alam yang terjadi hanyalah ritual alam saja, terjadi begitu saja, keseimbangan alam dan efek alamiah. Memang perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat, terutama ilmu tentang geologi, meteorologi, geofisika dan ilmu terkait lainnya sangat logis dalam menganalisa dan bahkan memprediksi berbagai bencana yang terjadi. Akan tetapi sebagai umat yang beragam, tentu kita paham bahwa alam semesta ini dan segala fenomenanya pasti ada pengaturnya, yakni Allah SWT. Tidak mungkin segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini tanpa seizin Allah SWT, bahkan daun kering yang jatuh dari pohon pun tak luput dari pengetahuan Allah SWT, apalagi bencana alam yang merenggut ribuan korban. Dari perspektif agama (Islam), bencana alam yang terjadi atas seizin Allah SWT mempunyai tiga tujuan, yakni , ujian, perngatan dan azab.

Bencana alam sebagai ujian Seorang hamba yang beriman tentu akan mengalami berbagai cobaan dalam hidupnya untuk benar-benar mengetahui kualitas keimanannya. Semakin tinggi kadar keimanan seseorang, tentu semakin tinggi pula kuantitas dan kualitas ujian yang diberikan Allah SWT. Dalam Al Quran Surat Al-Ankabut : 2, Allah SWT berfirman : Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan: Kami telah beriman?, sedang mereka tidak diuji lagi?. Bencana alam yang melanda suatu negeri dimana orang-orang dinegeri tersebut secara batiniah, lahiriah dan perilaku mencerminkan orang-orang beriman tentu masuk kategori sebagai ujian. Jika orang-orang tersebut selamat dan menerima dengan sabar,syukur istiqomah maka kualitas keimanannya semakin terasah. Jika sampai timbul korban meninggal dunia, tidak mustahil bisa dikategorikan mati syahid, pun jika tidak bisa saja kematiaannya sebagai penebus dosa-dosa yang dilakukan selama hidupnya. Bencana alam sebagai peringatan Tujuan yang kedua dari diturunkannya bencana adalah sebagai peringatan. Ibarat permainan sepakbola, pemain yang melakukan pelanggaran terlebih dulu diberi kartu kuning, dengan harapan pemain tersebut tidak akan melakukan pelanggaran lagi. Begitu juga dengan kaum di suatu negeri, jika hati, lisan dan perbuatan kaum tersebut mulai melenceng dari aturan syar i, mulai condong ke perbuatan maksiat, syirik dan perbuatan nista lainnya, tentu perlu suatu ?kartu kuning? sebagai peringatan. Dalam Al Quran Surat As-Syuraa : 30, Allah SWT berfirman : Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). Dengan adanya bencana ini, orang-orang yang selamat dan kaum negeri lain tentu dapat mengambil pelajaran berharga. Pentingnya menumbuhkan keimanan, menjauhi segala bentuk kemaksiatan serta meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT sehingga dapat selamat dan bahagia hidupnya di dunia dan akherat Bencana alam sebagai azab Makna dari adanya bencana alam selanjutnya adalah sebagai azab dari Allah SWT terhadap makhluknya (manusia) yang telah berpaling dari ajaran dan perintah-Nya. Dalam Al Quran Surat Al-Ankabut : 40, Allah SWT berfirman : Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. Dari ayat ini tersirat dosa manusialah yang menyebabkan terjadinya bencana, Perilaku maksiat dari penduduk negeri sudah menjamur dan mengakar, tidak peduli dengan segala aturan agama, tidak menggubris segala bentuk dakwah, bahkan dengan bangga dan terang-terangan menunjukkan kemaksiatan yang dilakukan. Dalam suatu hadits yang diriwayatkan Tirmidzi, Nabi Muhammad SAW sudah menyiratkan penyebab dari terjadinya bencana. Apabila kekuasaan dianggap keuntungan, amanat dianggap ghanimah (rampasan), membayar zakat dianggap merugikan, beiajar bukan karena agama (untuk meraih tujuan duniawi semata), suami tunduk pada istrinya, durhaka terhadap ibu, menaati kawan yang menyimpang dari kebenaran, membenci ayah, bersuara keras (menjerit jerit) di masjid, orang fasig menjadi pemimpin suatu bangsa, pemimpin diangkat dari golongan yang rendah akhiaknya, orang dihormati karena takut pada kejahatannya, para biduan dan musik (hiburan berbau maksiat) banyak digemari, minum keras/narkoba semakin meluas, umat akhir zaman ini sewenang-wenang mengutuk generasi pertama kaum Muslimin (termasuk para sahabat Nabi saw, tabi?in dan para imam muktabar). Maka hendaklah mereka waspada karena pada saat itu akan terjadi hawa panas, gempa,longsor dan kemusnahan. Kemudian diikuti oleh tanda-tanda (kiamat) yang lain seperti untaian permata yang berjatuhan karena terputus talinya (semua tanda kiamat terjadi).

Dari ketiga sebab terjadinya bencana di atas, hendaknya kita dapat mengambil pelajaran berharga, Akan tetapi jangan sampai terburu-buru dalam menyimpulkan sebab terjadinya bencana di suatu negeri, tetapi setidaknya ada setitik pengetahuan kenapa bencana menimpa negeri tersebut. Dan yang lebih penting, jangan sampai berpikir bahwa negeri yang kita huni akan aman-aman saja, bisa saja kehendak Allah SWT bicara lain. Kita wajib bersyukur bahwa sampai detik ini masih diberi kesempatan hidup di dunia, masih punya kesempatan untuk bertaubat dan meningkatkan iman dan taqwa., selalu mawas diri dan introspeksi. Semoga selalu diberi hidayah dan istiqomah dalam menunaikan ibadah kepada Allah SWT dan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang diberi ampunan dan kelak meninggal husnul khotimah.