ARTIKEL TERBARU

Guru Profesional
19 September  2019

Dilematika BPJS
15 September  2019

Tahun Baru 1441 Hijriyah Sebagai Momentum Menjalin Ukhuwah
12 September  2019

Tahun Baru Hijriyah 1441 H Sebagai Momentum Merajut Kebhinekaan Bangsa
9 September  2019

Relokasi Ibukota, Segenting Apa?
1 September  2019

Korelasi Profesionalisme dengan Kenyamanan Kerja
26 Agustus  2019

Pendidikan Muhammadiyah di Era Digital
31 Desember  2018

Pendidikan Madrasah di Era Digital
31 Desember  2018

Jalan Terjal Menjadi (C)PNS
31 Desember  2018

Fenomena Klithih
31 Desember  2018

Bencana Alam Dilihat dari Perspektif Agama
31 Desember  2018

Belajar dari SKD CPNS 2018
31 Desember  2018

Guru Milenial
9 Desember  2018

Pembentukan Bayangan Pada Mikroskop
13 September  2018

Pembentukan Bayangan Pada Lup
16 July  2018

Pembentukan Bayangan Pada Mata
13 July  2018

Pembentukan dan Sifat-sifat Bayangan Pada Lensa Cekung
25 Juni  2018

Pembentukan dan Sifat-sifat Bayangan Pada Lensa Cembung
25 Juni  2018

Pembentukan dan Sifat-sifat Bayangan Pada Cermin Cekung
24 Juni  2018

Pembentukan dan Sifat-sifat Bayangan Pada Cermin Cembung
22 Juni  2018


Selamat datang di portal ini. Jangan lupa saran, kritik dan komentarnya untuk perbaikan dan penyempurnaan web. Terimasih atas kunjungan dan partisipasi Anda. Salam sukses...



WA. 0831-0519-9711 (Dicks-Dix)


Tahun Baru Hijriyah 1441 H Sebagai Momentum Merajut Kebhinekaan Bangsa
 

Umat Islam seluruh dunia akan memasuki tahun bari Islam 1 Muharam 1441 Hijriyah pada hari Minggu, 1 September 2019. Tahun baru Islam ini menandai peristiwa penting dan bersejarah di dunia, khususnya bagi peradaban agama Islam. Dimulai dengan kebimbangan penentuan nama dan awal tahun pada masa kekhalifahan Khulafaur Rasyidin. Penggunaan kalender Hijriyah dilakukan pada zaman Khalifah Umar bin Khatab, yang menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah. Dimana tujuan hijrah Nabi Muhammad SAW adalah sebagai strategi dakwah dan menanggapi situasi dan kondisi yang tidak kondusif pada masyararakat Mekkah. Sistem penanggalan Islam ini menjadikan kalender hijriyah sebagai sistem penanggalan sehari-hari dengan menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya.

Kata hijrah berasal dari Bahasa Arab, yang berarti meninggalkan, menjauhkan dari dan berpindah tempat. Dalam konteks sejarah hijrah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw bersama para sahabat beliau dari Mekah ke Madinah, dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah, berupa akidah dan syari?at Islam. Hijrah tidak hanya dimaknai perpindahan dalam arti fisik, geografis, atau perilaku yang kasatmata, tetapi secara nonfisik hijrah adalah bertekad untuk mengubah diri. Seseorang dikatakan hijrah jika meninggalkan sesuatu yang kurang baik menuju sesuatu yang lebih baik sehingga diperoleh hasil yang bermanfaat demi meraih rahmat dan keridhaan Allah SWT. Hijrah sangat penting untuk mengubah cara pandang, sikap dan prilaku terhadap sesuatu.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, konteks hijrah dapat diterapkan untuk menjaga keberlangsungan dan kejayaan bangsa. Kondisi sosial, politik dan keamanan negara Indonesia pasca pilpres banyak terjadi peristiwa-peristiwa yang membenturkan sesama anak bangsa, peyaluran aspirasi yang berlebihan, kerusuhan, SARA bahkan isu disintegrasi bangsa. Pada masa pilpres 2019, bangsa Indonesia seakan-akan terpolarisasi menjadi dua kutub, antara kubu capres Jokowi dan kubu capres Prabowo. Bahkan sampai ada istilah cebong julukan bagi pendukung Jokowi dan istilah kampret bagi pendukung Prabowo. Energi bangsa terkuras hanya untuk menghadapi hiruk pikuk pilpres, dari masa kampanye, debat capres sampai masa pencoblosan. Berbagai persoalan terkait politik hampir selalu melibatkan dua kubu tersebut, sehingga semangat kelompok dan primordialisme sangat kentara sekali. Pasca pilpres, suhu politik bukannya mereda, justru malah semakin meningkat tajam. Dua kubu saling mengklaim kemenangannjya masing-masing dengan asumsi dan bukti-bukti versi mereka. Sampai harus diselesaikan di meja Mahkamah Konstitusi (MK).

Umat Islam sebagai penduduk mayoritas di Indonesia tidak luput dari dikotomi dan polarisasi politik. Berawal dari kasus Ahok, terjadi dualisme kelompok Islam yang merepresentasikan aliran politik praktis. Dengan jargon bela dan tegakkan Islam, sekelompok organisasi massa mengeluarkan aspirasinya, baik melalui demontrasi di lokasi terbuka maupun melalui program-program politik kepartaian. Di sisi lain, sekelompok organisasi Islam tidak sejalan dan sepaham dengan kelompok tersebut. Sehingga dua kelompok (baca : ormas) ini saling berhadapan dengan fatwa yang tidak bias disatukan. Ormas-ormas ini berafiliasi dengan partai politik dan capres cawapres, sehingga mempertegas garis pemisah kedua kubu.

Perbedaan pandangan berbagai aliran dan organisasi kemasyarakatan di kalangan umat Islam dari sisi manhaj, akidah maupun afiliasi politik akhir-akhir ini cenderung semakin mengerucut. Walaupun masih dalam satu agama, tetapi masing-masing kelompok menklaim bahwa paham merekalah yang cocok diterapkan di Indonesia. Pada saat yang lain, akhir-akhir ini terjadi aksi yang dilakukan sekelompok massa terhadap mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya, Jawa Timur. Berawal dari kesalahpahaman dan dibumbui dengan perkataan dan tindakan rasial, akhirnya berefek dan bereskalasi nasional. Gejolak di Jawa Timur memicu tindakan anarkhis dan kerusuhan di kota Jayapura, Papua. Ancaman disintegrasi bangsa mulia menyeruak, ditandai dengan berkibarnya bendera bintang kejora di berbagai tempat dan wacana referendum papua semakin gencar.

Beberapa kejadian ini perlu mendapat perhatian dan tindakan dari semua pihak, terutama pemerintah sebagai pemegang kekuasaan bangsa dan negara. Jika tidak disikapi secara serius, bijak dan komprehensif tidak menutup kemungkinan negara Indonesia akan menghadapi gejolak sosial politik yang menggerus persatuan dan kedaulatan bangsa. Selain menghadapi konflik intern dan antar umat beragama, Indonesia terancam disintegrasi. Jika kurang bijak dalam menyikapi, akan memancing pihak-pihak asing ikut memperkeruh suasana dan mengambil keuntungan sendiri.

Tahun baru Hijriyah 1441 H ini, perlu dijadikan momentum dan refleksi serta evaluasi bagi semua komponen bangsa untuk merajut tali persaudaraan dan persatuan bangsa. Diperlukan kebulatan tekad dan kemauan bersama oleh seluruh anak bangsa bahwa pentingnya menghormati paham dan keyakinan dalam satu agama (Islam), antar umat beragama dan antar daerah. Jangan sampai satu kelompok atau organisasi memaksakan kehendaknya kepada kelompok lain, bahkan terhadap negara. Jika terjadi permasalah akan lebih elegan jika ditempuh secara prosedural dan melalui jalur hukum. Di sisi lain pemerintah harus menjamin transparansi dan tegaknya hukum di semua lapisan masyarakat. Persoalan ancaman disintegrasi bangsa tidak bisa diselesaikan hanya dengan operasi militer yang justru akan mengundang pihak-pihak luar untuk ikut campur tangan. Opsi militer diambil jika memang keadaan sudah genting serta tidak ada pilihan lain, selain NKRI harga mati. Perlu pendekatan sosial, budaya dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat terkait, sehingga diperoleh kesepakatan untuk memperkokoh dan mempererat tali persatuan. Dengan hijrah dari paham primordialisme, sukuisme, sectarian dan merasa paling benar (taklid buta) menuju paham toleransi dan nasionalisme, maka kehidupan berbangsa dan bernegara akan aman, damai, tentram dan sejahtera serta terjaminnya rasa persatuan dan kesatuan.