ARTIKEL TERBARU

Guru Profesional
19 September  2019

Dilematika BPJS
15 September  2019

Tahun Baru 1441 Hijriyah Sebagai Momentum Menjalin Ukhuwah
12 September  2019

Tahun Baru Hijriyah 1441 H Sebagai Momentum Merajut Kebhinekaan Bangsa
9 September  2019

Relokasi Ibukota, Segenting Apa?
1 September  2019

Korelasi Profesionalisme dengan Kenyamanan Kerja
26 Agustus  2019

Pendidikan Muhammadiyah di Era Digital
31 Desember  2018

Pendidikan Madrasah di Era Digital
31 Desember  2018

Jalan Terjal Menjadi (C)PNS
31 Desember  2018

Fenomena Klithih
31 Desember  2018

Bencana Alam Dilihat dari Perspektif Agama
31 Desember  2018

Belajar dari SKD CPNS 2018
31 Desember  2018

Guru Milenial
9 Desember  2018

Pembentukan Bayangan Pada Mikroskop
13 September  2018

Pembentukan Bayangan Pada Lup
16 July  2018

Pembentukan Bayangan Pada Mata
13 July  2018

Pembentukan dan Sifat-sifat Bayangan Pada Lensa Cekung
25 Juni  2018

Pembentukan dan Sifat-sifat Bayangan Pada Lensa Cembung
25 Juni  2018

Pembentukan dan Sifat-sifat Bayangan Pada Cermin Cekung
24 Juni  2018

Pembentukan dan Sifat-sifat Bayangan Pada Cermin Cembung
22 Juni  2018


Selamat datang di portal ini. Jangan lupa saran, kritik dan komentarnya untuk perbaikan dan penyempurnaan web. Terimasih atas kunjungan dan partisipasi Anda. Salam sukses...



WA. 0831-0519-9711 (Dicks-Dix)


Korelasi Profesionalisme dengan Kenyamanan Kerja
 

Profesional mempunyai arti seseorang yang trampil, cakap dan sangat bertanggungjawab dalam menjalankan tugas (profesinya) sesuai bidangnya. Sedangkan profesionalisme adalah kompetensi untuk melaksanakan tugas dan fungsinya secara baik dan benar dan juga komitmen dari para anggota dari sebuah profesi untuk meningkatkan kemampuannya. Profesionalisme guru merupakan kondisi dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan seorang guru dalam bidang pendidikan dan pembelajaran, sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Guru yang profesional mempunyai persyaratan administrasi tertentu, seperti tingkat pendidikan formal, ijazah, sertifikat dan lainnya yang diakui sah oleh institusi pendidikan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Dengan persyaratan empat kompetensi tersebut, seorang guru tentu dapat bekerja dengan benar dan berhasil guna. Akan tetapi apakah keprofesionalan guru berpengaruh terhadap kenyamanan kerja guru tersebut? Kenyamanan merupakan suatu kondisi perasaan seseorang yang merasa nyaman karena terpenuhinya kebutuhan dasar. Kenyamanan sebenarnya sangat sulit untuk diartikan karena bersifat individu dan tergantung kepada kondisi perasaan orang yang mengalami situasi tersebut. Seorang guru profesional tidak menjamin bahwa ia dapat mengalami kenyamanan dalam bekerja sebagai pendidik, walaupun secara administratif, kompetensi keahlian dan finansial (baca:gaji) sangat mendukung. Kenyamanan bersifat personal, melibatkan suasana hati dan tidak bisa dinilai secara kasat mata.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kenyamanan guru dalam bekerja sebagai pengajar dan pendidik, diantaranya kondisi internal dan eksternal. Faktor internal diantaranya, kondisi psikis, gaya hidup, kondisi keluarga dan lainnya. Sedangkan faktor eksternal diantaranya, iklim kerja, kondisi lingkungan sekolah, perpindahan tempat kerja, dan lainnya. Untuk kondisi internal, kembali ke pribadi guru masing-masing untuk bisa memanage segala permasalahan, perlu komunikasi dan interaksi dengan orang-orang terdekat. Sedangkan kondisi eksternal melibatkan berbagai hal, seperti relasi dengan teman sejawat, kondisi sekolah, kebijakan pamerintah terkait mutasi atau rotasi dan sebagainya. Suasana dan iklim kerja yang tidak kondusif berpengaruh terhadap interaksi dan komunikasi antar guru yang secara tidak langsung akan berpengaruh juga terhadap kinerja guru. Segala permasalahan yang menyangkut interaksi antar guru perlu diselesaikan secara kekeluargaan dan kedinasan , sehingga sangat diperlukan sikap saling memahami, dan kerjasama antar guru dengan tidak melupakan tugas pokok dan fungsi masing-masing guru. Untuk kondisi lingkungan kerja yang kurang mendukung, perlu kebijakan kepala sekolah sebagai pucuk pimpinan dalam mengelola institusinya. Selain itu perlu keterlibatan dan peran aktif seluruh tenaga kependidikan dan non kependidikan untuk senantiasa menjaga lingkungan kerja yang kondusif, termasuk kebersihan, kerapiaan, keamanan dan perlengkapan sarana prasarana. Untuk faktor yang terakhir, yaitu kebijakan pindah kerja (mutasi atau rotasi) dari pejabat berwenang, juga berpengaruh terhadap kenyamanan dari seorang guru. Mutasi atau rotasi guru memang penting untuk pemerataan dan peningkatan profesionalisme guru tetapi tentu dengan kajian yang komprehensif , karena melibatkan kebutuhan pribadi bagi seorang guru, seperti transportasi terkait dengan jarak ke sekolah yang baru, kontribusi dan zona zaman guru terhadap sekolah lama, serta perlunya adaptasi dengan sekolah baru, baik dengan warga sekolah maupun lingkungan sekitar yang membutuhkan waktu dan proses.

Dari tinjauan di atas dapat ditarik benang merah kaitan antara profesionalisme guru dengan kenyamanan kerja. Kenyamanan kerja dari seorang guru sangat menunjang terwujudnya guru yang profesional, akan tetapi keprofesionalan seorang guru belum tentu berakibat kenyamanan kerja guru tersebut terpenuhi. Selain profesional, seorang guru perlu kenyamanan dalam bekerja, maka akan diperoleh hasil maksimal serta ketulusan, ketenangan dan kebahagiaan hakiki, sehingga terwujudnya generasi masa depan bangsa yang cerdas, berkarakter dan berakhlak mulia.